Kisah cinta Habibie Ainun

Ternyata, Habibi dan Ainun sudah saling kenal sejak kecil. Keduanya bersekolah di sekolah menengah yang sama, tetapi hanya Habibi yang berada di atas Ainun. Habibi dan Ainun dikenal sama-sama cerdas, sehingga sering dijodohkan.

Dia sering bertemu dengan Ainun, tetapi Habibi muda itu jelas tidak tertarik pada wanita kelahiran Semarang. Bahkan, Habibi diolok-olok dengan menyebut Ainun "jelek dan gendut seperti gula jawa". Namun, Ainun tidak pernah marah dipanggil dengan nama itu.

Setelah lulus SMA, Habibi melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung. Setelah itu, Habibi melanjutkan pendidikannya di Jerman kurang dari setahun. Selama hampir delapan tahun ia tidak kembali ke tanah air dan tentu saja tidak bertemu dengan Ainun.

Sekembalinya ke Indonesia, Habibi terkejut melihat Ainun tumbuh besar dan terlihat sangat cantik. Habibi meleleh begitu melihatnya. Ia pun bercanda jika Ainun dipanggil gula merah karena kulitnya yang gelap, sekarang seperti gula pasir.

Habibie mengikuti Ainun yang kembali ke Jakarta untuk bekerja di RSCM. Samasama tinggal di Jakarta membuat cinta mereka semakin bersemi. Keduanya pun sering bertemu dan merindukan satu sama lain. Indahnya masa pacaran membuat Habibie akhirnya memantapkan hati melamar Ainun dan menikahinya pada 12 Mei 1962.

Setelah menikah, Ainun ikut dengan Habibie yang harus menyelesaikan pendidikan S3nya di Jerman. Kehidupan awal di sana diwarnai dengan perjuangan yang luar biasa, keduanya harus menanggung pendapatan yang sangat sedikit dari beasiswa Habibi. Namun, pertempuran itu dihargai dengan manis. Dari pernikahan tersebut, Habibi dan Ainun dikaruniai dua orang putra, Ilham Akbar dan Tarek Kemal.

Ainun mampu menyeimbangkan dan menjadi seorang ibu membesarkan dua anak sambil membangun rumah bersama Habibi. Ainun mengajarkan anak-anak untuk menjalani hidup sederhana dan membiasakan diri berdiskusi dan mengemukakan pendapat.

Namun, ketika Ainu divonis mengidap kanker ovarium pada Maret 2010, peruntungan Habibi dan Ainu menghadapi tantangan besar. Habibi melakukan segalanya untuk merawat istrinya, bahkan Ainun pun langsung dikirim ke Jerman untuk perawatan intensif. Sejak saat itu, Habibi tidak meninggalkan Ainun hingga isterinya mengembuskan napas terakhir pada Mei 2010.

Meninggalnya Ainun menjadi pukulan telak bagi Habibi. Hatinya hancur ketika dia melepaskan istrinya yang telah menemaninya selama 48 tahun di hadapan Sang Pencipta. Habibi pun menulis surat terakhir untuk mendiang Ainun, penuh cinta dan haru.

Sepeninggal Ainun, Habibi berperilaku seperti anak kecil. Dia menangis, berteriak pada istrinya, dan mengenakan baju tidur tanpa alas kaki. Kondisinya saat itu bisa dibilang depresi karena ditinggalkan oleh belahan jiwanya. Habibi mendapat masukan dari dokternya, salah satunya membuat catatan pribadi.

Habibi pun mulai menuliskan cintanya kepada Ainun dalam sebuah buku dan menyelesaikannya hanya dalam waktu dua bulan. Usai menuliskan kisahnya, kondisi presiden ketiga Republik Indonesia itu membaik hingga akhirnya ia menerima kepergian istrinya. Buku ini kemudian diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2012.

Habibi adalah seorang pria pecinta sejati yang tetap setia meski maut memisahkannya. Selama bertahun-tahun, Habibi secara teratur mengunjungi makam Ainun di Makam Pahlawan di Calibata. Setiap hari Jumat, Habibi dan para pembantunya selalu mengirimkan bunga segar ke makam Ainun.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah cinta Habibi dan Ainuun. Salah satunya adalah penuh kesetiaan dan cinta pada pasangannya. Kini, Habibi telah berpulang, meninggalkan banyak prestasi dan kenangan nostalgia di mata masyarakat Indonesia. Mari kita doakan almarhumah di surga.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

AutoBiografi

Tragedi Trisakti 12-15 Mei 1998