Review Film Rudy Habibie
Film berdurasi 124 menit ini berfokus pada kisah BJ Habibie saat masih menempuh pendidikan di Aachen, Jerman. Sejak kecil, Habibie dikisahkan sudah tertarik dengan dunia penerbangan. Habibie pun selalu teringat pesan sang ayah sebelum meninggal dunia agar ia bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya di Jerman, Habibie bergaul dengan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang juga berasal dari Indonesia. Mereka adalah Liem Keng Kie, Peter, Poltak, dan Ayu.
Mereka sama-sama berjuang untuk lolos ujian masuk kampus RWTH. Habibie dikenal sebagai sosok yang jenius. Namun ia juga sering diremehkan oleh para senior-senior yang merupakan mantan Laskar Pelajar.
Habibie dan teman-temannya berhasil lolos dan menjadi mahasiswa RWTH. Selain kesibukan akademis, mereka juga disibukkan dengan kegiatan organisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI. Mulanya, Habibie tak tertarik pada PPI. Namun ia kemudian ikut bergabung dan menjadi ketua PPI cabang Aachen.
Habibie memiliki mimpi untuk menjadikan PPI sebagai wadah bagi para mahasiswa Indonesia di luar negeri untuk bisa membangun Indonesia, terutama di industri penerbangan. Namun visi Habibie tersebut mendapat banyak pertentangan, baik dari para anggota PPI yang kontra dengannya hingga dari pihak pemerintah Indonesia.
Selain diisi dengan kegiatan perkuliahan dan organisasi, kehidupan Habibie di Jerman juga diisi dengan kisah cintanya bersama gadis Polandia bernama Ilona.
Tak hanya Ilona, teman Habibie, Ayu yang merupakan putri dari Solo juga sempat menyukai Habibie. Namun Habibie memilih Ilona dan mereka berdua pun berpacaran hingga sering menghabiskan waktu bersama.
Sementara itu permasalahan di PPI kian hari menjadi kian pelik. Habibie dan teman-temannya mendapat berita jika pemerintah Indonesia tak akan membiayai program pembangunan mereka.
Namun Habibie tak menyerah. Ia tetap melanjutkan program tersebut hingga berhasil mendapat sponsor. Pemerintah Indonesia kembali menegaskan akan mencabut beasiswa para mahasiswa yang tetap menjalankannya.
Teman-teman Rudy yang takut beasiswanya dicabut pun meminta Rudy menghentikan program tersebut. Namun Rudy yang memiliki paspor hijau dan bukanlah mahasiswa ikatan dinas tetap bersikeras menjalankannya. Akibat kelelahan, Rudy akhirnya jatuh sakit dan divonis mengalami TBC tulang. Ibu Rudy pun datang menjenguk ke Jerman.
Di Jerman, Ibu Rudy mengetahui jika Rudy tengah dekat dengan Ilona. Ia kemudian mendatangi Ilona dan menanyakan keseriusannya. Ilona tampak ragu akan cinta Rudy. Semenjak itu, Ilona mulai menjauh dari Rudy. Rudy yang sakit pun memutuskan untuk segera pulang ke Indonesia agar bisa memulihkan kesehatannya. Namun sebelumnya, ia sempat mencari Ilona.
Ilona sebenarnya ingin agar Rudy tetap di Jerman dan meyakinkan Rudy bahwa kejeniusannya tidak layak untuk Indonesia. Namun Rudy yakin bahwa ia harus pulang ke Indonesia dan percaya jika Indonesia bisa berkembang seperti yang ia impikan. Sementara program pembangunan PPI kini diambil alih oleh PPI Hamburg.
Rudy dan Ilona sepakat untuk mengakhiri hubungan mereka. Sebelum pulang, Rudy pun berkumpul dengan teman-temannya untuk menghadiri kongres di Praha. Senior Laskar Pelajar yang dulu sering memusuhinya pun kini mengakui kehebatan Rudy.
Dari kisah saat Rudy Habibie kecil hingga saat ia berkuliah di Jerman, kita bisa mengetahui sejarah bangsa Indonesia. Mulai dari bagaimana kehidupan Indonesia pada masa penjajahan hingga saat Bung Karno menjadi presiden Indonesia dan mengirim banyak mahasiswa ikatan dinas untuk berkuliah di luar negeri.
Unsur sejarah ini juga tak lepas dari kisah politik yang terjadi di Indonesia pada periode masa tersebut. Dari film ini, sedikitnya kita juga akan mengetahui bagaimana peliknya praktek politik yang terjadi pada masa itu hingga harus dirasakan para mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di luar negeri.
Selain kisah sejarah dan politik, film Rudy Habibie juga tetap mengangkat kisah drama percintaan pada alur ceritanya.
Film Rudy Habibie banyak mengambil setting lokasi di kota Aachen, Jerman. Oleh karena itu, di sepanjang film ini kita akan melihat keindahan salah satu kota yang terletak di Eropa tersebut. Sinematografi film ini banyak memperlihatkan shot-shot cantik kota Aachen di masa lalu.
Tak hanya di Aachen, di awal film ini kita juga akan diperlihatkan adegan kilas balik saat Rudy Habibie masih anak-anak dan tinggal di kediaman orang tuanya.
Pemandangan alam Indonesia pun banyak ditampilkan dalam shot-shot lebar di awal film ini. Selain itu, pada awal film akan banyak efek-efek visual yang ditampilkan seperti ledakan bom yang cukup menegangkan.
Komentar
Posting Komentar